
Pementasan Teater di Ruang Kreatif Indonesia Kaya
Rananggana - Pertempuran Manusia Mencari Swargaloka
Rananggana Voyage
- Pertempuran Manusia Mencari Swargaloka -
RANANGGANA
Kita semua tahu
Bumi kita sekarat
Dan terus bergerak menuju kehancuran
Sudahkah kita turut menjadi bagian yang menahan lajunya?
Atau kita bagian yang mempercepat kerusakannya?
Tidak lagi mencari sebab salah siapa, ini beban kita semua
Rananggana, pertempuran manusia mencari swargaloka
Awalnya, Rananggana sang pertapa khusyuk manembah di sanggar pamujan bersama keempat saudaranya. Sebagaimana titah Dewi Laras (Dewi Kebahagiaan), jika ingin menemukan taman swargaloka, dia harus senantiasa menjaga keempat saudaranya. Waktu yang panjang membuatnya mengalami kejenuhan, lalu datang alap-alap penggoda. Rananggana mulai terganggu akan buah yang ditawarkan kedua alap-alap. Buah tersebut adalah kecubung wulung. Konon, ketika seseorang memakan buah kecubung wulung, hidupnya akan lebih lama dan bahagia bagai di swargaloka.
Dalam kelengahannya, lepaslah salah satu saudaranya. Lalu disusul saudara yang satu lagi. Mereka berdua kemudian sibuk memperebutkan buah kecubung wulung yang ditinggalkan alap-alap. Rananggana menjadi ragu-ragu. Dilema antara ikut keluar mengambil kecubung wulung, atau tetap menjaga dua saudara lainnya yang masih terpekur di sanggar pamujan. Dalam sekejap, dua saudaranya yang di luar, lenyap di sambar alap-alap. Rananggana gelisah, akhirnya diambil juga buah kecubung wulung itu, namun cepat-cepat ia kembali ke Sanggar pamujan. Tiba-tiba muncul lagi buah kecubung wulung, bahkan lebih banyak. Rananggana kembali tergoda, dia ingin mengambil sebanyak-banyaknya agar hidupnya abadi dan senantiasa bahagia. Namun saudaranya yang satu bangkit. Dia merangsak liar, mengobrak-abrik sanggar pamujan. Lalu keluar memunguti buah kecubung wulung yang berserakan seperti sebelumnya. Saudara satu inipun mendadak hilang. Rananggana sudah tidak peduli, perhatiannya hanya tertuju pada buah itu. Di tengah dia mencicipi buah tersebut, saudaranya yang tinggal satu keluar, menari-nari menyenangkan diri. Tak berapa lama, saudara-saudaranya yang lain (yang sebelumnya dibawa alap-alap) datang kembali ikut menari-nari. Tanpa canggung, akhirnya Rananggana-pun keluar menari bersama mereka.
Mengendap-endap kedua alap-alap membawa jerat. Keempat saudara Rananggana menyingkir. Secepatnya Rananggana digulung dengan tali jerat oleh kedua alap-alap lalu sekeras-kerasnya dibanting ke tanah. Kemudian ditinggalkan terkapar sendirian tak berdaya. Di tengah kesakitan yang dia rasakan, melintas ingatan Dewi Laras. Dia sadar, dia telah tergoda oleh tipu daya alap-alap. Dia sangat menyesal, dia telah gagal menjaga titah Sang Dewi. Dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki, Rananggana mencoba bangkit. Dia meratapi rumahnya yang porak poranda. Kemudian semedi memanggil kembali saudara-saudaranya. Dia bacakan mantra-mantra. Memang benar keempat saudaranya kembali, namun telah menjelma menjadi “Buto”. Raksasa-raksasa dengan wajah mengerikan. Terjadi pertempuran hebat. Rananggana akhirnya berhasil menaklukkannya. Rananggana kemudian me-ruwat-nya agar keempat saudaranya kembali seperti sedia kala.







