thriller samarthriller samar1 opsthriller samar
  • Home
  • About
  • Tim Kreatif
  • Folktival
    • Kampung Budaya Cabean
    • Panjang Culture Space
    • Event
  • Open Studio
    • Open Class
    • Dejavu Play
  • Rananggana Verse
    • Lore
  • Arsip
  • Blog
    • Artikel
    • Berita

Dukuh Sumber

  • Home
  • Folklor
  • Dukuh Sumber
UPAYA PELESTARIAN BAHASA JAWA DI ERA MILENIAL
4 Desember 2023
Komunitas Seni SAMAR Ekonomi Kreatif
Berbagi Cerita Mitologis dalam Ekonomi Kreatif
10 Desember 2023
Categories
  • Folklor
Tags
  • Bulusan
  • Folklor

A. Sejarah

Terkisah sebuah cerita yang tersohor dari Kabupaten Kudus, mengisahkan tentang asal usul adanya Dukuh Sumber. Memang benar cerita ini adalah anonim yang beredar dari mulut ke mulut. Meski demikian, cerita mengenai asal usul Dukuh Sumber ini tetap dipercayai dan terkenang di dalam hati masyarakat. Berikut ini adalah ulasan singkat mengenai asal usul Dukuh Sumber yang kami peroleh dari juru kunci situs Ngebul Bulusan.

Alkisah pada abad 500 M, tinggallah seorang sesepuh tak beristri, tepat di alas lereng Gunung Muria. Para warga memanggilnya dengan Mbah Buyut Kyai Dudo. Tidak banyak warga yang tahu kalau beliau merupakan keturunan asli dari keluarga Kerajaan Surakarta dan memutuskan untuk menetap di alas lereng Gunung Muria. Beliau diketahui tinggal bersama murid-muridnya di bawah naungan sebuah rumah sederhana.

Rumah itu hanya dibuat dari rangkaian dedaunan hasil kerja keras beliau dan para murid. Meski demikian, rumah yang amat sederhana itu terasa sejuk dan nyaman untuk ditinggali dan menyebarluaskan ilmu – ilmu keagamaan.

Pada suatu malam di bulan Ramadhan menjelang hari raya Idul Fitri, kedua murid Mbah Dudo yang bernama Umara dan Umari, pergi ke sawah di lereng Gunung Muria untuk mencabut benih benih padi, atau yang lebih dikenal dengan istilah ndaud. Kebetulan pula, Sunan Muria tengah melakukan perjalanan ke Selatan pada malam itu. Beliau merasa penasaran tatkala mendengar suara gemericik air dari area persawahan. Tanpa pikir panjang lagi, beliau menuju sumber suara itu.

Sesampainya di sana, beliau mendapati Umara dan Umari tengah menjalankan tugas ndaud dengan tekunnya. Tanpa sadar, Sunan Muria pun melontarkan kata-kata:

“Malam malam seperti ini bukannya rajin mengaji, kok kalian berdua malah bekerja kripyak kripyik seperti bulus!”

Pada saat itu pula, Umara dan Umari berubah Wujud menjadi dua ekor bulus. Lalu, area persawahan tempat terjadinya kejadian luar biasa itu, kini dikenal dengan Sawah Mojo Bulus.

Nasi sudah menjadi bubur. Itulah kata-kata yang tepat saat Umara dan Umari terlanjur berubah wujud menjadi dua ekor bulus akibat ucapan Sunan Muria yang menjadi kenyataan. Dengan berat hati, Sunan Muria pun melangkahkan kakinya ke Selatan, diikuti oleh kedua ekor bulus yang tak akan pernah kembali ke wujud manusia lagi.

Masih dalam kegelapan malam, Sunan Muria dan kedua ekor bulus beristirahat di Bunuk Prasman. Tempat itu merupakan area tanah kosong tanpa kepemilikan oleh siapapun. Hanya ada gubuk kecil nan sederhana yang bisa menjadi tempat beristirahat bagi mereka. Namun, Sunan Muria pun tersadar, hanya berdiam diri tanpa melakukan apapun tak akan pernah mengubah apapun. Rasa khawatir dan putus asa akan nasib Umara dan Umari terus menggelayuti pikirannya. Beliau pun beranjak, meneruskan perjalanannya ke daerah Togog bersama kedua ekor bulus yang malang itu,

Malam sudah turun menjelang subuh. Di rumah, Mbah Dudo mulai cemas akan Umara dan Umari yang tak kunjung pulang. Tak ingin menunggu lebih lama lagi. beliau pun memutuskan untuk menyusul kedua muridnya itu. Di tengah perjalanan, Mbah Dudo berpapasan dengan Sunan Muria dan kedua ekor bulus yang sedari tadi mengikutinya. Hanya dengan melihat raut wajah cemas Mbah Dudo, Sunan Muria pun bisa menerka siapa yang tengah dicarinya.

“Mengapa Engkau berjalan pada Subuh – subuh seperti ini, Mbah?”

“Salam, Sunan. Aku sedang menuju ke sawah untuk mencari murid – muridku, Umara dan Umari. Mereka berdua sedang kutugaskan untuk pergi ndaud, tapi mereka tak kunjung kembali sampai sekarang. Aku benar Sunan.” benar sangat cemas,

“Ehm…. seperti itu.”

“Lalu, mengapa ada dua ekor bulus di belakang mu, Sunan?”

“Begini, Mbah. Kuharap kau tidak terkejut. Ini memang kekeliruanku yang berkata tanpa berpikir dahulu. Sebenarnya, kedua ekor bulus ini adalah kedua murid yang tengah kau cari, Mbah..”

“Astaga, muridku…. Umara…. Umari…. Bagaimana bisa begini, Sunan?” pekik Mbah Dudo yang terkejut dan berlinangan airmata.

“Aku tak sengaja mengibaratkan mereka seperti bulus karena tetap bekerja kripyak – kripyik di sawah malam malam. Seketika, berubah lah mereka menjadi dua ekor bulus. Kini, nasi sudah menjadi bubur, Mbah. Ini memang sudah nasib kedua muridmu. Mereka tak akan pernah bisa kembali menjadi manusia lagi.”

“Lalu, sekarang bagaimana selanjutnya dengan nasib murid-muridku, Sunan?”

“Baiklah. Mari ikuti aku ke Utara.”

“Baik, Sunan.”

Masih dengan berat hati, Mbah Dudo pun mengikuti langkah Sunan Muria ke arah Utara, sambil memandang kedua murid-muridnya yang kini berwujud kekuatannya, Sunan Muria menancapkan carang adem ati di tanah. Seketika, keluarlah sumber mata air dari kayu yang tertancap di tanah kosong itu. Mbah Dudo yang menyaksikan secara langsung pun sampai takjub dan tertegun.

“Lho? Kok ada sumber mata air yang keluar dari tanah tandus ini, Mbah?”

“Ini juga merupakan bukti kuasa Tuhan Yang Maha Esa. Pada suatu saat nanti, alas ini akan dikenal dengan nama Desa Sumber”

“Lalu, bagaimana dengan nasib muridku, Umara dan Umari, Sunan?”

“Jangan khawatir, Mbah murid-muridmu yang berwujud bulus ini akan tinggal di sekitar sini. Biarlah mereka yang akan menjaga daerah ini”

“Lalu, bagaimana cara mereka mencari makan, Mbah?”

“Jangan risau, Mbah Mereka akan diberi makan dengan baik oleh para warga secara turun temurun Bulus – bulus ini tak akan selalu dihargai dan tak akan pernah ditelantarkan.”

“Syukurlah, Sunan. Wahai muridku, Umara dan Umari, semoga kalian akan baik-baik saja di sini dan senantiasa berada dalam perlindungan Tuhan Yang Maha Esa, Nak”

“Aamiin….”

Dengan begitu, Mbah Dudo sudah mengikhlaskan kedua muridnya, Umara dan Umari untuk menetap di alas kosong yang kemudian dikenal dengan Dukuh Sumber Tak hanya Umara dan Umari, daerah tersebut juga dihuni oleh bulus – bulus dan berbagai jenis hewan lain seiring berlalunya waktu Mereka semua senantiasa dirawat dengan baik oleh para warga dari satu generasi ke generasi lainnya sampai sekarang

B. Perkembangan Situs Bulusan

Adanya kisah tentang asal-usul Dukuh Sumber diperkirakan terjadi pada abad 500 M. Seiring berjalannya waktu, terjadi berbagai macam perkembangan pada adat istiadat maupun situs dari Bulusan dan Dukuh Sumber sendiri. Warga setempat bersyukur karena pernah ada bantuan renovasi situs Bulusan oleh Raden Mas Adipati Ario Sostroningrat, ayahanda tercinta dari Raden Ajeng Kartini. Situs Bulusan itu dulunya diberi nama Bale Bowo Leksono oleh beliau

Dalam perkembangan jaman, Bale Bowo Leksono berubah nama menjadi Gedung Ngebul Bulusan yang tak pernah diubah lagi sampai sekarang. Pemerintah Kabupaten Kudus berinisiatif untuk mengubahnya karena situs tersebut ditempati oleh banyak bulus. Dan sejalan dengan berubahnya nama situs, terpilihlah seorang juru

Mbah Domo. Beliau juga yang menciptakan semboyan bertuliskan huruf Jawa yang tertulis indah di situs Bulusan, yang berbunyi

Gatining Sembah Terusing Jagad

Makna dari semboyan berbahasa Jawa itu adalah: Jika Engkau memiliki niat dan bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu, niscaya tujuanmu akan terkabul.

Setelah itu, situs Bulusan tetap bertahan dan berkembang dari generasi ke generasi Alhasil, situs Bulusan berhasil diakui menjadi salah satu situs pariwisata oleh pemerintah Kabupaten Kudus. Meski jumlah bulus di sana tak sebanyak jaman dulu, tapi mereka masih tetap dirawat dan dikeramatkan oleh masyarakat dari setiap generasi.

C. Rangkaian Adat – Istiadat di Situs Bulusan

Selain merenovasi Bale Bowo Leksono, Raden Sosrodiningrat juga dikenal sebagai pelopor acara Kupatan yang bertahan menjadi acara tetap sampai sekarang bagi warga Dukuh Sumber. Acara Kupatan ini rutin diadakan pada malam ketujuh Idul Fitri untuk memperingati Khaul Mbah Dudo. Bentuk acaranya mirip seperti khajatan dan tahlil masal oleh para warga desa yang berkumpul menjadi satu di Situs Bulusan. Mereka serentak memanjatkan doa dan mengaji dengan khidmad pada malam Kupatan itu sebagai tradisi untuk memperingati Khaul Mbah Dudo serta ungkapan rasa syukur atas perlindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Sebelum acara Kupatan dilaksanakan, para warga biasanya melaksanakan tradisi Gunungan pada pagi hari. Acara yang satu ini merupakan tradisi baru yang dibentengi oleh Ketua Kesenian Kudus sendiri. Keunikan dari acara Gunungan ini adalah saat para warga dengan antusias menyusun gunungan berbagai macam hasil desa, baik itu hasil panen maupun hasil ternak, dilengkapi nasi nasi kuning yang mengerucut. Selain itu, acara Gunungan ini juga diramaikan oleh pentas kesenian seperti wayang kulit.

Banyak warga yang berpartisipasi dalam rangkaian acara Kupatan dan Gunungan, baik sebagai panitia maupun hanya sekedar menonton. Dan perlu diketahui bahwa rangkaian acara tersebut, tak hanya diramaikan oleh Lurah, Camat, maupun warga lokal saja. Bahkan masyarakat di luar Kudus juga banyak berdatangan untuk menyaksikannya.

D. Kepercayaan Warga Dukuh Sumber terhadap Situs Bulusan

Situs Bulusan merupakan salah satu tempat yang senantiasa dirawat dan dikeramatkan oleh warga Dukuh Sumber. Mereka percaya bahwa setiap bulus yang ada di sana harus dirawat dengan baik, termasuk memberi mereka makanan untuk bertahan hidup. Para bulus biasa mendapatkan makanan dari warga desa yang yang menunaikan khajatan atau nduwe gawe serta orang-orang yang mempunyai nadzar tertentu, seperti pernikahan, sunat, aqiqah, tujuh bulanan, dan lain sebagainya. Para warga selalu mengirimkan nasi dan dua butir telur rebus untuk mereka. Apabila yang mempunyai khajat dan nadzar merupakan golongan orang kaya, mereka akan turut mengirimkan ingkung ayam beserta nasi dan telur.

Menurut kepercayaan, apabila ada para warga yang berkhajat dan bernadzar tidak melarung makanan khajat ke sungai, maka beragam malapetaka akan menimpa warga yang bersangkutan. Malapetaka itu benar-benar nyata terjadi, seperti perceraian, kecelakaan, linglung, mendadak bisu, dan lain-lain. Oleh karena itu, para warga selalu saling mengingatkan pada orang yang mempunyai khajat maupun nadzar untuk tak lupa melarung makanan khajat ke sungai.

E. Penyimpangan – Penyimpangan Agama dan Sosial di Situs Bulusan

Sudah tak asing lagi bahwa situs Bulusan merupakan tempat pariwisata di Kabupaten Kudus. Bukan hanya didatangi oleh warga sekitar, bahkan situs Bulusan juga ramai didatangi oleh masyarakat dari luar kota. Baik mereka ingin meneliti sejarah dan kondisi situs untuk dikembangkan dalam dunia pendidikan maupun hanya sekedar bersendau gurau dan menikmati wisata lokal Bulusan.

Namun, keberadaan situs Bulusan dan segala kepercayaan yang ada kian membuat perspektif menyimpang yang sering terjadi sampai sekarang. Sebagai contoh, banyak orang yang datang dengan alibi untuk mengunjungi situs Bulusan, tapi pada kenyataannya mereka justru datang untuk memadu kasih atau berkencan, terutama bagi kaum muda – mudi. Perilaku ini tentu saja tergolong penyimpangan sosial masyarakat yang tidak pantas untuk dilihat dan seakan menodai citra situs Bulusan.

Di lain sisi, bukan hanya penyimpangan sosial yang terjadi di situs Bulusan, melainkan terdapat pula penyimpangan agama yang kerap kali terjadi. Seringkali terjadi di mana para wisatawan yang datang dengan maksud untuk mencari kekayaan dan lain sebagainya. Mereka sengaja memanjatkan doa di situs Bulusan yang bukan ditujukan untuk Tuhan Yang Maha Kuasa. Hal ini tergolong perilaku musyrik dalam pandangan orang muslim, yang artinya menyekutukan Tuhan Yang Maha Esa. Tentunya, kita semua tahu bahwa perbuatan tercela tersebut adalah dosa besar bila dilakukan oleh siapapun dengan alasan apapun.

Oleh sebab itu, kita harus senantiasa menjaga perilaku kita di situs Bulusan. Sungguh tidak terpuji bila kita melakukan penyimpangan – penyimpangan sosial maupun agama di salah satu tempat bersejarah yang ada. Mari kita saling menghargai dan memperhitungkan segala langkah yang akan kita ambil untuk melestarikan warisan budaya. Tidak ada salahnya bila kita tetap meneruskan segala adat istiadat yang ada. Tapi, jangan lupa dan terlena dalam buaian kenikmatan duniawi dan bahkan menyalah artikan kuasa Tuhan sebagai kekuatan dari makhluk lain yang tidak boleh kita sembah. Dan semoga kisah mengenai asal-usul Dukuh Sumber dan situs Gedung Ngebul Bulusan tak akan pernah pudar seiring waktu. Mari kita jaga dan cintai warisan budaya kita bersama.

Narasumber : Juru Kunci Situs Ngebul Bulusan.

  1. Bapak Sira judir.
  2. Ibu Sudarsih.

D. Visualisasi Bulusan, Upaya Pelestarian Nila Kebudayaan

Share
Admin
Admin

Related posts

Ritual Mbulusan
28 Desember 2023

mBulusan dalam Legenda


Read more
28 Desember 2023

mBulusan Riwayatnya Kini


Read more
Visualisasi Mbulusan
28 Desember 2023

Adem Ati Sebagai Sumber


Read more
Pusat Data Komunitas Seni Samar, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.