

Ruas-ruas waktu merambah keheningan di kepala
Kelopak fikir kian terbuka perlahan
Hitam coklat merah orange kuning putih
Bersimbah rupa-rupa khayal bermekaran
Kujembatani inginku dan ingin Mu
Dengan kepala dan dada
Kujilid satu-satu jadi sejarah
“ Karma akan berbentuk-bentuk cara
menghukum peruntungan nasib yang tersia “
Telah kulindas ketidak berdayaan
Ku tikam-tikam derita tiap kali menumbuh
Sabar dan tawakallah selalu mengecambah
Duka adalah anggur surgaku
Aku telah bermabuk karenanya
Sementara tangis menawarkan mimpi dipelukan bidadari
Tapi Kau
Benarkah setiap kerdipMu adalah intan permata ?
Yang menyulap baju compang-campingku ini, jadi berkilau ?
Benarkah aku bermandi di sungai susuMu sebagai balas dahaga berbilang abad
Tapi Kau
Kenapa hanya sebentuk nafsu ?
Tapi Kau
Kenapa hanya seujud indera ?
Bukankah itu kerendahanku dan kerendahan Mu ?
Sebagai jembatan antara aku dan Kau ?
Leo Katarsis, Februari 1997