
Diskusi Kebudayaan Peradaban Wilayah Muria Selatan - Masyarakat Pra Kudus

RANANGGANA
Dalam, sejarah besar atau yang banyak dipahami bersama, wilayah Kudus didirikan oleh Sunan Ja’far Shodiq yang kemudian populer sebagai Sunan Kudus (setidaknya beliau dianggap peletak dasar berdirinya sebuah kota – Kudus). Hal ini mengacu pada prasasti yang berada di Masjid Al-Aqso Kudus tertera angka tahun 1549 M.
Pertanyaan besar tentang peradaban wilayah Kudus yang kemudian berkembang menjadi wilayah administrasi Kabupaten Kudus adalah :
- Sebelum Sunan Ja’far Shodiq menginjak kaki pada wilayah dimaksud, mungkinkah telah ada lebih dulu pola peradaban masyarakat di kawasan tersebut ?
- Jika memang ada, apakah nama wilayah yang merujuk pada kawasan tersebut ? Dan seperti apakah gambaran umumnya ?
Kisi – kisi pertanyaan sebagaimana tersebut, akan menjadi dasar utama dalam kajian mengenai hal – hal pokok menyangkut akar sejarah wilayah Kudus.
Muria Kidul
Sebagiaman telah diinformasikan oleh beberpa pencatat sejarah, pada masa silam Pulau Muria masih terpisah dengan Pulau Jawa dengan dibatasi Selat Muria yang kemudian waktu terjadi pendangkalan (mulai abad 17) dandalam perkembanganya antara Pulau Muria dengan Pulau Jawa menyatu sebagai daratan utuh. Ditengah pulau terdapat pegunungan yang dinamakan pegunungan Muria.
Keberadaan wilayah Kudus saat ini, terletak di sisi selatan daratan pulau muria atau di sebelah selatan pegunungan. Sisi lainya merupakan wilayah administrasi Kabupaten Jepara dan Kabupaten Pati. Dari letak lokasi kawasan saat ini bernama Kudus, maka dalam bahasan ini diistilahkan sebagai Muria Kidul atau Muria bagian selatan.
Kalingga
Oleh beberapa peneliti sejarah (nasional atau internasional), pada abad 5 – 7 M diyakini terdapat kerajaan besar di kawasan Muria bernama Kalingga, yang salah satu pemimpinnya (Ratu Shima) sangat terkenal bijaksana dan banyak rujukan dalam kisah-kisah sejarahnya. Kerajaan Kalingga, termasuk dalam kategori kerajaan Nusantara karena cakupan wilayahnya yang luas (antar pulau) juga telaah memiliki hungan diplomasi dan perdaganan dengan kerajaan – kerajaan besar di dunia seperti India dan Cina.
Mengingat keberadaanya yang masih satu kawasan (pulau) sangat memungkinkan jika peradaban Kalingga memilki pengaruh besar terhadap kemasyarakatan Muria yang berada di sisi selatan (Kudus saat ini).
Menara Ikon Kota
Di Wilayah Kabupaten Kudus (saat ini) terdapat bangunan menarik dan monumental bahkan menjadi ikon kota (Kudus) yang sekarang berfungsi sebagai Menara Masjid. Bangunan tersebut kemudian diberi nama sebagai Menara Kudus.
Bentuk bangunan Menara yang unik (paling tidak sebagai masjid), menimbulkan banyak spekulasi dan beragam pernyataan : apakah bangunan tersebut merupakan bangunan menara satu paket dengan Masjid Al – Aqso ataukah bangunan tersebut memang sudah ada sebelumnya dan merupakan sebuah candi ? Jika bangunan dimaksud adalah menara yang diperuntukkan sebagai fasilitas masjid, maka teori yang muncul adalah menara tersebut dibangun pada masa Sunan Ja’far Shodiq.
Menilik kondisi bangunan yang ada, mulai dari bentuk dan bahan baku utama yang digunakan, serta analisa-analisa yang menyertai, maka dalam bahasan ini ditarik kesimpulan bahwa bangunan monumental tersebut sudah ada sebelumnya (lara Masjid Al-Aqso) dan merupakan sebuah Candi atau Kuil. Jika peertanyaan ini ditemukakakn, maka pertanyaan berikutnya adalah siapa yang membangunnya?
Alur Mundur
Catatan sejarah nusantara menyebutkan bahaw Kerajaan Demak berdiri pada angka tahun 1478 (abad 15) dan Sunan Ja’far Shodiq menjabat sebagai Senapati (panglima perang kerajaan). Dalam periode tersebut antara Demak (yang ada di Jawa) dengan kawasan Muria masih terpisah selat. Hal ini menunjukkan bahwa pada waktu tersebut, Sunan Ja’far Shodiq belum berada di wilayah Muria karena aktif menjalankan tugasnya sebagai punggawa kerajaan Demak, dikuatkan dengan catatan sejarah menyebutkan bahwa Senopati Ja’far Shodiq melakukan penaklukan sisa – sisa pendukung Majapahit di Lamongan, Blitar (1541), Wirabasa (1542), Penanggungan (1543), Mamenang (1544) dan Senggurah (1545). Secara umum , pada periode tersebut, Sunan Ja’far Shodiq belum berada di kawasan Muria dan secar otomatis kota Kudus belum berdiri.
Pada periode tahun 1405 – 1453 sejarah dunia kembali mencatat fenomanea menarik yang kemudian terkenal dengan istilah “Ekspedisi Cheng Ho” yakni pelayaran muhibah dari kekasiaran Cina yang dipimpin Laksamana Cheng Ho yang rata – rata Muslim, membawa barang – barang perniagaan Cina serta turut didalamnya : diplomat, ahli masak diplomat, ahli masak, tukang kayu, tukang ukir dan keahlian lain yang dibutuhkan selama muhibah.
Salah satu pencatat sejarah menyebutkan : “daerah kunci pesisir pada waktu itu terletak kira-kira di bagian tengahnya, sebelah-menyebelah selat yang ketika itu masih memisahkan Gunung Muria dari tanah daratan Jawa dan merupakan jalan lintas alami tempat kapal-kapal berlabuh”.
Gambaran ini menunjukkan bahwa keberadaan selat Muria merupakan perairan jalan pintas transportasi laut di Jawa yang efisien dan daratan Muria menjadi tempat strategis untuk singgah atau berlabuh. Tentang beberapa tenaga ahli yang dibawa, salah satunya juru ukir, memungkinkan sekali untuk merujuk The Ling Sing (Kyai Telingsing) berada dalam tim ekspedisi Cheng Ho dan berlabuh di kawasan Muria. Kehadiran ukir Gebyok yang menjadi karya seni kelas tinggi dan penuh pesona di kawasan Muria, dan diyakini diyakini ber-cikal bakal dari Telingsing, menunjukkan masyarakat daratan Muria bagian selatan sebelum bernama Kudus, telah memiliki peradaban yang cukup berarti.
Seiring berkembangnya kebudayaan masyarakat Muria selatan dengan menjamurnya rumah-rumah Tajug berdinding ukir Gebyok, maka kawasan dimaksud dikenal dengan nama Kampung Tajug. Telah disebutkan sebelumnya, pada kisaran abad 7 M, berdiri kerajaan besar Kalingga yang berlokasi di kawasan Muria. Perihal kiprah kerajaan Kalingga ini terdapat dalam catatan Cina, diantaranya kesaksian Fa Hsien, seorang pengembara dari Cina yang sempat singgah di Kalingga.
Pada kisaran abad tersebut, tak hanya kerajaan Kalingga saja yang eksis. Dalam catatan-catatan sejarah nusantara, juga mengisahkan terdapat kerajaan besar lainnya yang berebut supremasi menguasai nusantara. Diantaranya, Sunda Galuh di Jawa Barat, Sriwijaya di area Sumatera bagian selatan, dan Kanjuruhan di Jawa Timur. Namun, perebutan supremasi ini hanya melibatkan Kalingga, Sunda Galuh dan Sriwijaya. Hasil alam yang berada di pegunungan Dieng (Jawa Tengah) berupa Belerang yang ternyata menjadi bahan komoditi paling diminati oleh Cina, menjadi salah satu faktor pemicu untuk dapat dikuasai.
Sengketa antara dinasti Sanjaya (trah Kalingga dan Sunda Galuh) dengan dinasti Syailendra (trah Sriwijaya) merupakan catatan peristiwa ‘perang saudara yang berkepanjangan dan nyaris tanpa henti. Pada periode tersebut, perebutan kekuasaan antara Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra silih berganti saling menumbangkan dan menduduki kursi singgasana kerajaan, sampai ber-abad lamanya.
Pada peristiwa itu, terdapat tokoh bernama Hang Anggana atau Rana Anggana, seorang panglima perang angkatan laut yang dikirim oleh Kalingga dalam pertempuran itu. Banyaknya korban jiwa dan harta benda yang selalu diderita oleh kedua belah pihak serta kejelasan peperangan kapan akan berakhir, membuat
Panglima Anggana, muak dan benci pada peperangan. Karena hal itulah, maka Anggana menarik sisa-sisa pasukannya untuk kembali ke daratan Muria. Melewati Selat Muria, Anggana tidak kembali ke Kalingga melainkan berlabuh di Tanjung (desa Tanjungkarang saat ini) dan memutuskan menetap. Melalui jalan darat yang memakan waktu tidak lama, bersama kaum bebadra (kaum pendatang yang lebih dulu menetap), Anggana bersama rombongannya membuka kawasan hutan Jati (desa Getas Pejaten saat ini) sebagai tempat menggarap lahan pertanian dan memulai kehidupan masyarakat baru. Setelah masyarakatnya berjalan dalam kondisi cukup pangan dan sandang, Rana Anggana mengembangkan wilayah menuju tengah kawasan (desa Demangan saat ini) dan mendirikan sebuah Banjar (desa besar/perkotaan) yang diberi nama sesuai dengan pendirinya yaitu Rananggana (dari kata Rana Anggana). Seiring dengan perkembangan jaman dan kebijaksanaan dari pemimpinnya, Rananggana menjadi banjar yang sangat maju.
Sebagai seseorang yang taat pada ajaran keyakinan nenek moyangnya, masyarakat Rananggana membangun tempat pemujaan/peribadatan berupa Candi yang tetap menggunakan Lingga-Yoni sebagai symbol. Seiring perjalanan waktu, kebutuhan akan tempat peribadatan yang lebih besar, menjadikan masyarakat Rananggana membangun tempat pemujaan/peribadatan yang lebih besar pula, sckaligus monumental, yang kemudian diberi nama Merudandha¹.
Titik Simpul
Perjalanan menuju kota yang akhirnya bernama Kudus, dapat ditarik dari ‘hubungan- hubungan’ letak wilayah, catatan sejarah kerajaan yang ada, peristiwa yang terjadi dan menjadi catatan sejarah, hingga catatan kiprah tokoh-tokoh yang terkait sesuai dengan periodisasinya.
Mengacu pada pokok tersebut, dalam kajian ini disimpulkan bahwa telah terdapat peradaban masyarakat yang menempati wilayah Muria bagian selatan (Muria Kidul) yang mendapat pengaruh dari kerajaan Kalingga dan peristiwa ‘perang saudara’ berkepanjangan antara dinasti Sanjaya dan dinasti Syailendra yang pada saat itu sebagai penguasa tanah Jawa. Adalah Rana Anggana seorang panglima dari kerajaan Kalingga yang turut terlibat dalam perang tersebut dan menarik pasukannya hingga menetap di daratan Muria sebelah selatan, dan mengembangkan wilayah menjadi perkotaan. Pada masa ini wilayah Muria Selatan menjadi banjar (perkotaan) bernama Rananggana sesuai dengan nama pendirinya, dan peninggalan bersejarah berupa bangunan Merudandha (saat ini menjadi Menara Kudus). Dari sini, Rananggana berkembang maju dan mengalami masa surut.
Kisaran abad 15 M, sebuah agenda besar dari kekaisaran Cina yang diberi label Ekspedisi Cheng Ho juga turut mempengaruhi catatan sejarah di wilayah Jawa dan Muria. Keberadaan Telingsing yang turut dalam rombongan armada sebagai ahli ukir, singgah dan kemudian
menetap di wilayah Muria selatan. Keahliannya dalam seni ukir membuahkan hasil berupa karya seni yang juga monumental berupa Ukir Gebyok yang kemudian menjadi tren sebagai Omah Gebyok yang sangat artistik. Fenomena Omah Gebyok yang menjadi identitas kawasan, akhirnya mengukuhkan wilayah kota di Muria selatan ini sebagai Kampung Tajug. Dalam perkembangannya, nama Rananggana tenggelam dan digantikan oleh nama yang lebih populer saat itu yakni Tajug. Telingsing sebagai innovator kemajuan menjadi tokoh sentral. Pada periode ini, Tajug dikenal sebagai nama perkotaan dan ikon kebudayaannya adalah Omah Gebyok.
Surutnya kerajaan Demak dan digesernya pusat pemerintahan baru ke wilayah Pajang oleh Hadiwijaya, membuat Sunan Ja’far Shodiq sudah tidak lagi menjadi punggawa kerajaan. Dari peristiwa ini, kemudian Ja’far Shodiq memilih untuk tinggal di kawasan Muria selatan (Tajug) dan mulai mengembangkan wilayah yang ditempatinya. Sebagai seorang perwira kerajaan, tak disangsikan lagi kalau Sunan Ja’far Shodiq memang ahli dalam mengelola wilayah. Mengambil lokasi di area Merudandha, dibangunlah Masjid Besar dengan menggandeng’ Merudandha yang pada saat itu ‘sepi’ pengunjung sebagai Menara. Surutnya Rananggana dan semakin banyaknya masyarakat Tajug yang kemudian memeluk agama Islam, memungkinkan sekali jika pembangunan Masjid di area tersebut karena sangat strategis, mengingat sebagai pusat keramaian kota. Bentuk akulturatif yang diterapkan oleh Sunan Ja’far Shodiq adalah mengalih-fungsikan Merudandha sebagai Menara Masjid, bukan meruntuhkannya. Dalam inkripsi yang tertera di atas mihrab Masjid, tertulis angka tahun 956 H (1549 M).
Dalam periode ini, Kudus akhirnya menjadi nama kawasan di wilayah Muria selatan dan menjadi abadi sampai saat ini dengan berkembang menjadi kota administrasi Kabupaten Kudus. Adapun peninggalannya sebagai ikon kota adalah ‘tiga serangkai’: Al-Quds, Al-Aqso, Al- Manar.
Sebagaimana proses evolusi dalam ilmu biologi, proses evolusi sejarah menuju kota Kudus melewati fase-fase yang cukup panjang serta diselimuti keremangan sejarah baik itu berupa tutur maupun catatan. Tak jarang terjadi semacam pro-kontra dalam membahas sejarah Kudus, sekalipun semuanya berorientasi positif yakni menggali akar-akar sejarah Kudus untuk dijadikan media edukasi dan informasi terhadap warga masyarakat. Namun, alangkah lebih indahnya jika segala persoalan didudukkan sejajar, lalu pro-kontra disikapi dengan arif dan dijadikan bahan-bahan yang saling melengkapi, untuk kemudian menjadi semacam thesis demi pembelajaran seluruh masyarakat bersama.
Disajikan dalam oleh Sujatmiko : Diskusi Kebudayaan, HUT Komunitas SAMAR Kudus, Maret 2019.




