Jauh sebelum bernama Kudus, jauh sebelum Pulau Muria menyatu dengan Jawa. Adalah seorang pemuda bernama Anggana yang sakti mandraguna. Dia terampil dan tangkas olah kanuragan juga gemar bertapa. Tidak lain dia adalah saudara sepupu Sanjaya, cucu dari Ratu Shima sang penguasa Kerajaan Kalingga.

Ketika Sanjaya mendirikan kerajaan Medhang Bhumi Mataram, Anggana diangkat sebagai panglima perang dan menjadi pengabdi Sanjaya. Namun disaat Kerajaan Medhang di puncak kejayaannya, terjadi perselisihan antara Anggana dan Sanjaya. Anggana dianggap membangkang karena tidak mau menjalankan perintah untuk menumpas pemberontakan Kerajaan Sunda-Galuh, yang disinyalir akan melepaskan diri dari Medhang agar bisa mengelola tambang belerangnya di Danau Putri. Anggana justru tersinggung dan menganggap Sanjaya tidak adil karena membiarkan sekutu barunya Dharanindra dari Kerajaan Sriwijaya mengekploitasi hasil alam Pulau Muria yang adalah tanah leluhurnya. Mereka dibiarkan mengambil emas, perak, cula badak, gading gajah, kulit penyu dan hasil alam lain sesukanya.

Akhirnya Anggana dan pasukannya meninggalkan Kerajaan Medhang Bhumi Mataram dan menuju ke tanah kelahirannya Pulau Muria. Mereka bertempur habis-habisan di Selat Muria mengusir pasukan Sriwijaya. Setelah pertempuran usai, Anggana dan pasukanya tidak kembali ke Medhang tapi menetap menjaga tanah Muria yang tersebar dari Tanjung Para sampai Teluk Gangga. Daerah itu kemudian dikenal sebagai Rananggana.

Konon, menurut penduduk setempat mereka menjadi buyut – buyut, cikal bakal desa – desa di tanah Muria. Makam – makam mereka menjadi punden – punden yang dikeramatkan. Disekitarnya tumbuh pohon – pohon besar dengan sumber mata airnya yang sebagian masih terpelihara hingga hari ini. Ada pula yang mengatakan kalau Anggana dan pasukannya moksa dan menjelma menjadi batu – batu besar di lembah Rahtawu.