
Melalui program OpenClass – DejavuPlay, sebuah inisiatif yang merombak pemahaman umum mengenai ruang belajar. OpenClass – DejavuPlay menawarkan sebuah paradigma di mana teater tidak dipandang sebatas tontonan estetis yang pasif, melainkan sebuah peristiwa epistemologis yang mampu memproduksi ilmu pengetahuan. Peristiwa menjadi Ilmu menjadi kompas bagi manifesto ini, sebuah seruan bagi masyarakat umum dan pelajar untuk merebut kembali ruang-ruang ekspresi sebagai ruang pendewasaan diri dan laboratorium kehidupan.
Omah Pencu, dengan arsitekturnya yang khas, menjadi titik tolak bagi sebuah pencarian yang melampaui batas-batas administrasi desa. Mengikatkan diri pada wilayah lingkar pegunungan Muria, sebuah kawasan yang secara historis memiliki lapisan-lapisan cerita lokal. Pencarian identitas ini dilakukan melalui metodologi yang serius, di mana ilham dan ide tidak jatuh begitu saja dari langit, melainkan hasil dari transformasi nilai melalui perenungan mendalam dan lingkungan alam.
OpenClass – DejavuPlay mengandung gugatan terhadap stagnasi sistem pendidikan yang cenderung memisahkan teori dari praktik, serta memisahkan ilmu pengetahuan dari pengalaman tubuh. Dalam filosofi SAMAR, teater adalah sebuah “oasis pengetahuan”. Peristiwa di sini diartikan sebagai setiap getaran aksi, setiap konflik dalam naskah, dan setiap interaksi antara aktor dengan penonton yang memicu kesadaran baru. Teater bukan semata tontonan untuk dinikmati dalam kejauhan yang aman, tetapi sebuah ruang belajar di mana ilmu pengetahuan ditemukan melalui keringat dan dialog.
OpenClass – DejavuPlay memposisikan teater sebagai media komunikasi pendidikan yang holistik. Di sini, masyarakat umum dan pelajar diajak untuk memahami bahwa setiap peristiwa teatrikal adalah proses mengeksplorasi, bertukar, dan memanfaatkan pengetahuan. Pengetahuan yang dimaksud tidak terbatas pada teknik akting atau olah tubuh, tetapi mencakup pemahaman tentang psikologi manusia, sosiologi masyarakat, hingga etika dalam berkomunitas. Sebagaimana diungkapkan oleh Jacques dalam karya Shakespeare, bahwa seluruh dunia adalah panggung dan kehidupan adalah pertunjukan itu sendiri, maka OpenClass – DejavuPlay memperlakukan setiap momen latihan sebagai fragmen dari ilmu kehidupan yang lebih besar.
Integrasi teater ke dalam ruang pendidikan alternatif ini didorong oleh kenyataan bahwa pertunjukan teater di Indonesia sering kali masih dinikmati sebatas hiburan permukaan, belum diinterpretasikan secara luas sebagai ruang pendewasaan diri. SAMAR melalui OpenClass – DejavuPlay berusaha mengubah persepsi ini dengan menawarkan kurikulum seni pertunjukan yang mampu menghantarkan perekaman ekspresi dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. Teater menjadi instrumen untuk mempertajam kreativitas otak dan memberikan keseimbangan ideal dalam pola belajar yang sering kali terlalu berat pada aspek kognitif semata.
Sebagai bentuk tanggung jawab terhadap masyarakat desa, SAMAR menjadikan Omah Pencu sebagai Laboratorium Kesenian dan Kebudayaan yang mandiri. Laboratorium ini bukan ruang tertutup bagi para ahli, melainkan tempat mengasah bakat bagi masyarakat sekitar, umum, maupun pelajar. Di laboratorium ini, teater, tari, musik, rupa, dan sastra berkolaborasi dalam sebuah proses berbasis riset untuk melahirkan karya-karya yang memiliki kedalaman nilai.
Eksplorasi di Omah Pencu melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari seniman profesional hingga warga desa biasa. Keterlibatan ini menciptakan sebuah ekosistem belajar yang organik, di mana pengetahuan tidak mengalir secara hierarkis, melainkan menyebar secara horizontal melalui interaksi simbolik dalam proses penciptaan karya.
Secara teoretis, teater harus dipahami sebagai sebuah institusi dan bagian dari proses komunikasi dalam mengeksplorasi pengetahuan. OpenClass – DejavuPlay berfungsi sebagai media komunikasi yang sangat interaktif, di mana masyarakat lingkungan terlibat tidak hanya sebagai penonton, tetapi juga sebagai pengamat, penginterpretasi, dan pengkritik. Pola komunikasi ini memungkinkan terjadinya pertukaran simbol yang diberi makna bersama, menciptakan sebuah kesadaran kolektif tentang isu-isu yang diangkat dalam pementasan.
Bagi pelajar, teater memberikan pelatihan aspek-aspek komunikasi praktis yang sangat penting di dunia yang semakin berpusat pada informasi, seperti berbicara di depan publik dan mengembangkan kepercayaan diri. Namun, lebih dari itu, teater memberikan “jalan keluar” bagi emosi dan impian yang mungkin tidak dapat diungkapkan dalam kehidupan sehari-hari yang penuh dengan tekanan akademik. Pengalaman belajar teater memungkinkan seorang siswa untuk menjadi “sosok lain”, mengeksplorasi peran baru, dan bereksperimen dengan berbagai solusi pribadi atas masalah yang kompleks.
Teater juga mengajarkan empati yang mendalam bagi para pengajar. Seorang guru yang memiliki keahlian teater akan cenderung lebih disukai oleh siswa karena kemampuannya untuk mengajar dengan lebih ekspresif dan berempati. Metode bermain peran sering kali digunakan dalam mengajar bidang studi lain, seperti sejarah atau IPS, agar materi yang disampaikan lebih hidup dan mudah dipahami oleh siswa. Setiap pementasan yang lahir dari OpenClass – DejavuPlay didokumentasikan dan dikaji kembali, sehingga menjadi jejak kreatif yang dapat dipelajari oleh generasi berikutnya. Dokumentasi ini penting untuk membangun arti penting apresiasi terhadap tokoh-tokoh budaya dan para pelaku seni yang telah berdedikasi.
Inti dari pedagogi OpenClass – DejavuPlay terletak pada “Metodologi Bermain” yang menempatkan kegembiraan sebagai fondasi utama transfer ilmu. Pendekatan ini diwujudkan melalui reaktivasi dolanan tradisional sebagai teknik pembelajaran tematik yang bermakna. Dolanan tradisional seperti gobak sodor, dakon, bekel, hingga cublak-cublak suweng tidak diperlakukan sebagai aktivitas sampingan, melainkan sebagai representasi ilmu pengetahuan yang mengandung strategi, kerja sama, dan ketangkasan. Melalui bermain, peserta OpenClass – DejavuPlay mengalami proses sosialisasi yang membantu mereka menyesuaikan diri sebagai anggota kelompok sosial secara natural.
Menutup manifesto ini, mari kita bayangkan sebuah panggung di bawah langit malam Kudus. Seorang pelajar berdiri di sana, memerankan tokoh Anggana yang baru saja kembali dari medan perang Sunda-Galuh. Di depannya, ratusan warga desa menonton dengan khidmat. Pada saat itu, sejarah bukan lagi deretan tahun yang harus dihafal untuk ujian esok hari. Sejarah menjadi sebuah peristiwa yang dirasakan di dada, sebuah ilmu tentang kesetiaan pada tanah air yang meresap ke dalam sanubari. Dalam ruang ini, teater bertransformasi menjadi “Teater Game”, sebuah laboratorium di mana aturan main dolanan menjadi struktur dramatik.
Penggunaan lagu-lagu dolanan atau tembang seperti Padang Bulan dan Jejamuran berfungsi melatih vokal sekaligus membangun kepercayaan diri peserta sebelum memasuki eksplorasi peran yang lebih kompleks. Metodologi ini memastikan bahwa pendidikan teater bersifat inklusif dan berpusat pada peserta (learner-centered), di mana setiap gerak dan interaksi dalam permainan adalah upaya “belajar sambil berbuat” (learning by doing). Dolanan tradisional menjadi jembatan untuk menarik minat generasi muda yang mulai terasing dari akar budayanya akibat gempuran teknologi modern.
Ilmu pengetahuan ada dalam setiap gerak dolanan tradisional, ada dalam setiap tawa saat kita melompati garis gobak sodor, dan ada dalam setiap keheningan saat kita merenungkan nasib bangsa di balik lampu panggung.
Itulah inti dari “Peristiwa menjadi Ilmu”. Sebuah momen singkat di atas panggung yang mampu mengubah cara pandang seseorang terhadap dunia. Komunitas Seni Samar akan terus menjaga api ini tetap menyala di Omah Pencu, memastikan bahwa teater tetap menjadi ruang belajar yang paling inklusif bagi siapa saja yang ingin mendewasakan diri. Kami mengundang kalian semua, pelajar dan masyarakat umum, untuk tidak sebatas menjadi penonton bagi sejarah, melainkan menjadi pelaku aktif dalam menciptakan peristiwa-peristiwa yang akan menjadi ilmu pengetahuan bagi masa depan bangsa Indonesia.
Teater adalah kehidupan, dan kehidupan adalah pertunjukan itu sendiri. Mari kita jadikan pertunjukan kehidupan kita di tanah Muria ini sebagai sebuah proses belajar yang tiada henti, demi pemajuan kebudayaan dan martabat manusia yang seutuhnya. Di SAMAR, kita tidak hanya belajar berakting, kita belajar menjadi manusia yang lebih berempati, kritis, dan berbudaya. Di mana setiap peristiwa adalah guru, dan setiap kita adalah murid yang selamanya merindu pada ilmu.

