
Program Folktival yang digagas oleh Komunitas Seni Samar adalah sebuah model pendampingan yang menempatkan desa sebagai subjek utama, bukan objek dari proyek kebudayaan.
Proses pendampingan dalam Folktival dimulai dengan tahap sosialisasi teknis dan musyawarah desa.
Komunitas Seni Samar melalui Folktival berupaya untuk merekonstruksi kembali nilai gotong royong ini sebagai sebuah praktik budaya yang aktif. Gotong royong dalam persiapan festival teater kampung bukan merupakan sekadar kerja bakti fisik, melainkan sebuah manifestasi dari solidaritas sosial yang solid. Setiap warga yang terlibat, mulai dari anak muda hingga orang tua, memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Proses ini menumbuhkan kembali rasa saling percaya (trust) dan kepedulian antar sesama anggota masyarakat yang mulai memudar akibat dampak modernitas. Hal itu juga dilakukan dalam pendampingan Kampung Budaya Cabean. Dengan menggelar Festival Cabean yang digelar sejak tahun 2020. Komunitas Seni Samar Menekankan Manajemen Festival yang Partisipatif.
Menerapkan tahapan kerja yang memastikan setiap elemen masyarakat memiliki peran yang signifikan dalam setiap prosesnya.
Tahap Pra-Kegiatan (Perencanaan): Dilakukan melalui musyawarah desa yang melibatkan berbagai pihak seperti pemerintah desa, sesepuh, seniman lokal, pemuda, dan kelompok PKK. Forum ini digunakan untuk mendiskusikan konsep acara, anggaran, dan pembagian tugas secara adil.
Tahap Pelaksanaan (Implementasi): Warga desa menjadi aktor utama dalam pertunjukan, baik sebagai pemain musik, penari, maupun kru artistik. Seniman dari Komunitas Seni Samar berperan sebagai fasilitator yang memberikan bimbingan teknis dan artistik tanpa mendominasi proses kreatif warga.
Tahap Pasca-Kegiatan (Evaluasi): Dilakukan proses evaluasi bersama masyarakat dan pengunjung untuk mendapatkan umpan balik mengenai kenyamanan dan kualitas pertunjukan. Evaluasi ini penting untuk memastikan keberlanjutan festival di tahun-tahun mendatang.
Pembangunan kebudayaan desa yang mandiri memerlukan strategi jangka panjang yang melibatkan kolaborasi lintas sektoral antara seniman, pemerintah, akademisi, dan sektor swasta.
Melalui pendampingan yang konsisten, desa-desa di kawasan lereng Muria diharapkan dapat memiliki kemandirian budaya yang tangguh. Festival budaya tidak lagi bergantung pada bantuan luar yang bersifat sementara, tetapi menjadi kebutuhan organik masyarakat untuk mengekspresikan jati diri mereka.

