Lore

RanaAnggana

Ketika Sanjaya mendirikan kerajaan Medhang Bhumi Mataram, Anggana diangkat sebagai panglima perang dan menjadi pengabdi Sanjaya. Namun disaat Kerajaan Medhang di puncak kejayaannya, terjadi perselisihan antara Anggana dan Sanjaya. Akhirnya Anggana dan pasukannya meninggalkan Kerajaan Medhang Bhumi Mataram dan menuju ke tanah kelahirannya Pulau Muria. Mereka bertempur habis-habisan di Selat Muria mengusir pasukan Sriwijaya. Setelah pertempuran usai, Anggana dan pasukanya tidak kembali ke Medhang tapi menetap menjaga tanah Muria yang tersebar dari Tanjung Para sampai Teluk Gangga. Daerah itu kemudian dikenal sebagai RanAnggana.

Konon, menurut penduduk setempat mereka menjadi buyut – buyut, cikal bakal desa – desa di tanah Muria. 

Rananggana Voyages

 

Kebudayaan Jawa merupakan sebuah hamparan kesadaran yang menempatkan manusia sebagai bagian integral dari kosmos yang lebih luas, di mana setiap tindakan kreatif dipandang sebagai bentuk ibadah sekaligus olah batin. Dalam kerangka berpikir ini, Komunitas Seni Samar memformulasikan Rananggana Verse sebagai sebuah platform artistik yang bertujuan untuk menggali kembali akar-akar filosofis, mitologis, dan metafisika yang terkubur di bawah lapisan modernitas. 

 Program ini berdiri di atas keyakinan bahwa ruang seni pertunjukan merupakan medan pertempuran epos bagi jiwa untuk menemukan keseimbangan di tengah dinamika zaman yang terus berubah. Melalui penjelajahan di lanskap Gunung Muria, Rananggana Verse berupaya menyatukan narasi lokal dengan visi kosmologis yang universal, menciptakan sebuah ekosistem artistik yang mampu berbicara melampaui batas-batas bahasa verbal.

 

Filosofi

 Istilah Rananggana memiliki akar kata yang dalam dalam bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno, merujuk pada medan perang atau arena perjuangan fisik bagi seorang prajurit. Namun, dalam visi artistik Komunitas Seni Samar, makna ini mengalami perluasan signifikan menjadi sebuah metafora bagi perjuangan internal manusia melawan hawa nafsu dan kekacauan pikiran. Rananggana dipahami sebagai ruang di mana kesadaran diuji, sebuah medan laga bagi Surengrana atau ksatria yang berani menghadapi dirinya sendiri. Filosofi ini menempatkan seniman sebagai praktisi di medan spiritual yang mempertaruhkan segenap jiwa dan raganya demi tegaknya nilai-nilai kebenaran dan keindahan.

 Perjuangan dalam Rananggana Verse mencerminkan konsep mesu budi, sebuah usaha keras untuk mengendalikan hawa nafsu jasmani maupun rohani guna mencapai kejernihan batin. Hal ini sejalan dengan tradisi pertunjukan Jawa yang sering kali berfungsi sebagai media ruwatan, di mana seni digunakan untuk menetralisir energi negatif dan mengembalikan keseimbangan hidup di alam yang dinamis. 

 Melalui medium teater, Komunitas Seni Samar menghadirkan Barongan Muria dalam sekuel atau semesta Rananggana sebagai intepretasi visual dari pergulatan tersebut, di mana gerak tubuh dan simbol-simbol artistik menggantikan peran dialog verbal untuk menyentuh relung batin penonton yang paling dalam.

 

Dimensi Penjabaran Filosofis Manifestasi Artistik
Etika Perjuangan melawan hawa nafsu (Amarah, Lawwamah, Shufiah, Mutmainnah) Gerak teater eksplosif
Estetika Keindahan yang terpancar dari kebenaran batin dan kejujuran ekspresi Penggunaan material alami yang mentah dan organik
Metafisika Penjelajahan ruang antara yang nyata dan yang entah Tata cahaya minim dan atmosfer yang meditatif
Sosial Pengabdian diri kepada masyarakat melalui karya  Refleksi Kolekif dan keterlibatan komunitas lokal

Nilai-nilai ini melekat secara imanen dalam setiap proses kreatif, menegaskan bahwa kebenaran artistik selalu selaras dengan sikap batin dan kehendak insani yang luhur. Dengan demikian, Rananggana Verse merupakan sebuah laku budaya yang menempatkan seni sebagai kendaraan untuk mencapai kesempurnaan hidup atau kasampurnan dalam tradisi Jawa. Medan laga ini menuntut kesiapan mental prajurit yang tangguh, kuat, dan gagah, namun tetap menyadari kerentanan manusiawi yang memerlukan pemeliharaan spiritual dan fisik.

 

Lanskap Metafisika dan Jejak Peradaban Lemuria

Gunung Muria memiliki posisi sentral dalam kosmos Rananggana Verse, dipandang sebagai sebuah pusat gravitasi spiritual yang menyimpan misteri sejarah dan metafisika yang mendalam. Wilayah ini dikenal sebagai tempat seribu makam keramat, sebuah peta kesucian yang dibentuk melalui ingatan kolektif masyarakat terhadap para wali dan leluhur. Keberadaan jejak Kesunanan dalam peradaban Muria menjadi simbol dari integrasi antara sikap spiritual dengan kearifan lokal yang telah ada sebelumnya, menciptakan sebuah bentuk ruang liminal yang akomodatif.

 

Dalam narasi metafisika yang lebih luas, terdapat keyakinan bahwa Gunung Muria merupakan bagian dari peradaban kuno yang hilang, yaitu Lemuria. Teori ini menyebutkan bahwa pada masa lampau, wilayah Nusantara merupakan daratan luas yang dikenal sebagai Paparan Sunda, dan Muria adalah salah satu titik tinggi yang tidak tenggelam ketika zaman es berakhir. Hubungan antara nama Muria dan Lemuria dianggap sebagai jejak fonetik yang menghubungkan masyarakat masa kini dengan kejayaan masa lalu yang legendaris. 

 

Mengambil inspirasi dari narasi ini untuk membangun semesta RANANGGANA, sebuah ruang imajiner yang menggabungkan fakta sejarah dengan mitologi untuk mengeksplorasi asal-usul peradaban dan jati diri bangsa. Penjelajahan di ruang mitologi ini bertujuan untuk memperkenalkan narasi-narasi lokal Kudus sebagai kekayaan khasanah yang diakui dunia. Dengan membawa cerita Muria ke panggung internasional, Komunitas Seni Samar berupaya membuktikan bahwa kearifan lokal memiliki daya hidup yang mampu menjawab tantangan krisis psikologis manusia modern. Konsep geologis Muria sebagai pulau yang terpisah dari daratan Jawa pada masa lampau memberikan dimensi isolasi ritual suci.

Praktik Budaya

Mengembangkan gaya pertunjukan yang sangat spesifik, dengan semangat modernis namun berakar kuat pada tradisi seperti bentuk upacara melalui kegembiraan kolektif. Pertunjukan sdisusun berdasarkan gagasan Leo Katarsis dan disutradarai oleh Mophet sK, menonjolkan kekuatan tanda-tanda visual dan gerak. Salah satu ciri khas yang paling menonjol adalah penggunaan material alami dan peralatan sehari-hari sebagai properti panggung yang sakral. Sebagai contoh, tokoh Rananggana dengan Sada Manggala menggunakan sapu lidi sebagai simbol senjata utamanya, menggambarkan kekuatan yang muncul dari kesatuan hal-hal kecil yang terikat erat. Kostum para aktor yang bernama Bregada Manyura pun menggunakan bahan-bahan organik seperti eceng gondok untuk baju zirah, tempurung kelapa untuk aksesoris, serta bambu dan peralatan dapur seperti pincuk, serok, dan ekrak sebagai topeng. Pemilihan material ini merupakan bentuk apresiasi terhadap kekayaan alam sekaligus upaya untuk kembali pada esensi kemanusiaan yang dekat dengan bumi.

 

Sistem Tanda Implementasi dalam Pertunjukan Makna Simbolis
Kata (Word) Penggunaan dialog verbal, gesture dan gerak tubuh

Menekankan pada esensi pemikiran daripada retorika

Nada (Tone) Intonasi suara yang ritmis dan meditatif Menciptakan suasana sakral dan magis
Gesture Gerakan tangan dan jari yang menyerupai mudra Komunikasi spiritual dengan entitas entah
Gerak (Movement) Eksplorasi gerak tubuh yang kekar dan kokoh

Representasi ketangguhan prajurit Rananggana

Make-up Penggunaan warna-warna tanah dan alami Penyatuan aktor dengan lanskap alam Muria
Kostum Baju zirah eceng gondok dan gelang tempurung kelapa

Simbol perlindungan diri yang organik dan tangguh

Properti Sapu lidi (Sada Manggala) Senjata yang melambangkan persatuan dan kemurnian
Tata Cahaya Cahaya minim dan penggunaan api alami

Ruang kontemplasi batin dan misteri metafisika

Pendekatan Teater Tubuh diusung oleh Komunitas Seni Samar meniadakan dialog verbal untuk memberikan ruang bagi eksplorasi tubuh dan bunyi. Hal ini menciptakan pengalaman estetika yang berbeda bagi penonton, di mana mereka tidak hanya menonton sebuah cerita, melainkan mengalami sebuah getaran energi yang memancar dari interaksi antara aktor dengan danyang leluhur atau entitas mitologis seperti Dewi Saraswati. Pertunjukan ini menjadi jembatan antara alam nyata dan alam khayal, membangkitkan kesadaran akan keberadaan makhluk-makhluk mitologi dan energi purba yang menghuni hutan Muria.

 Eksplorasi Mitologi dan Folklore

Program Rananggana Verse secara konsisten mengangkat episode-episode yang berakar pada folklore lokal, seperti lakon Barongan Ndas Papat atau Barongan Empat Kepala yang dipentaskan dalam ajang internasional International Mask Festival.

Lakon ini mengeksplorasi empat karakter utama manusia yang dwujudkan melalui topeng-topeng binatang: macan, banteng, kera, dan merak. Keempat simbol ini melambangkan nafsu-nafsu manusia yang harus ditundukkan atau diseimbangkan oleh tokoh utama dalam medan Rananggana. 

Penjelajahan ini bukan merupakan aktivitas hiburan semata, melainkan upaya menarasikan lanskap Muria di perhelatan internasional guna memperkuat identitas budaya dan mendorong pemajuan budaya yang otentik dan berkesinambungan.

Selain itu, pertunjukan A Vague Story of Rananggana: Bregada Merudhandha menghidupkan kembali narasi tentang perlawanan prajurit lokal melawan invasi pasukan Sriwijaya di Selat Muria Purba. Cerita ini menggambarkan bagaimana kemenangan fisik sering kali diiringi oleh duka mendalam karena kehilangan sosok pemimpin seperti Ratu Sanjaya dalam penyerbuan tersebut. Narasi ini mengingatkan masyarakat akan sejarah wilayah Muria yang dulunya merupakan pulau terpisah, dipisahkan oleh selat yang kini telah menjadi daratan subur tempat tumbuhnya peradaban Kudus, Pati, dan Jepara.

Sejarah/Mitologi Artistik Implikasi Budaya
Eksistensi Selat Muria Purba Latar belakang geografis dalam Bregada Merudhandha

Membangkitkan kesadaran akan perubahan geologis dan sejarah maritim

Invasi Peradaban ke Jawa Adegan pertempuran di tanah dan kapal-kapal yang dibakar

Simbol perlawanan kedaulatan lokal terhadap hegemoni luar

Legenda Bangsa Lemuria Visualisasi estetika peradaban tinggi yang tenggelam

Menghubungkan Muria dengan narasi kemanusiaan universal

Eksplorasi mitologi ini berfungsi untuk memperkuat identitas budaya sekaligus mendorong pemajuan budaya yang berbasis pada pengalaman otentik. Eksplorasi mitologi ini berfungsi untuk memperkuat identitas budaya sekaligus mendorong pemajuan budaya yang berbasis pada pengalaman otentik. Rananggana Verse menjadikan jejak jejak purba ini sebagai inspirasi bagi penciptaan karya yang mampu menjembatani masa lalu dengan masa depan, memastikan bahwa nilai-nilai luhur terawat atau bernegoisasi dengan zaman.

Praktik budaya di sekitar Muria tidak dapat dipisahkan dari fenomena ziarah yang telah berlangsung selama berabad-abad. Masyarakat meyakini adanya tuah dan kekuatan gaib yang terpancar dari makam-makam keramat, yang mereka gunakan sebagai media untuk memperoleh berkah, keselamatan, hingga penguasaan ilmu linuwih atau kesaktian. Dalam perspektif Rananggana Verse, fenomena ini dilihat sebagai bentuk pencarian manusia akan jangkar spiritual di tengah ketidakpastian dunia modern. 

Di mana masyarakat secara kolektif mengangkat tokoh-tokoh tertentu menjadi wali berdasarkan silsilah spiritual yang dihubungkan langsung ke kutub kesucian. Rananggana Verse mengadopsi struktur berpikir ini dalam penciptaan semesta artistiknya, di mana setiap karakter dan lokasi pertunjukan memiliki bobot sakralitas yang mirip.

 

Ritual di lereng Muria memberikan dampak yang signifikan, mencakup aspek ekologis, ekonomi, sosial, dan psikologis. Secara ekonomi, ribuan tenaga kerja bergantung pada eksistensi makam-makam keramat ini, sementara secara sosial, ziarah memperkuat solidaritas lokal dan menciptakan ruang pertemuan bagi berbagai latar belakang masyarakat. Namun, tantangan muncul ketika generasi muda mulai kehilangan akses terhadap pengetahuan kearifan lokal ini karena banjir informasi yang semakin terfragmentasi dengan konteks zaman sekarang dan lampau, dan narasi modernitas semakin menjauhkan manusia dengan habitat alamnya. Rananggana Verse  dalam ruang liminal hadir sebagai jembatan untuk mengisi kekosongan tersebut, menyajikan ruang mitologi Muria dalam wujud seni audio visual medium teater, film, sendratari, rupa yang mampu memikat kesadaran generasi baru.

 

Rananggana Verse yang digagas oleh Komunitas Seni Samar merupakan sebuah manifesto artistik yang menempatkan seni sebagai permenungan reflektif dan pertanyaan dari kehidupan dan praktek spiritual dan sosial budaya. Dengan mengintegrasikan filosofi Jawa tentang medan pertempuran batin, metafisika Gunung Muria yang misterius, dan narasi peradaban kuno muria, program ini menciptakan sebuah bentuk kesenian yang relevan bagi manusia modern. 

Penggunaan medium teater tubuh dan material alami menegaskan komitmen untuk kembali pada esensi kemanusiaan dan narasi ekologis. Program adalah perjalanan panjang untuk merajut kembali benang-benang peradaban demi masa depan yang lebih harmonis dan bermartabat.

 

Rananggana Verse terus menyuarakan bahwa perjuangan di medan kesadaran tidak akan pernah berakhir selama manusia masih memiliki keinginan untuk mencari makna hidup di semesta yang agung ini. Komunitas Seni Samar, melalui Rananggana Verse, berkomitmen untuk terus menjaga nyala api Muria agar tetap bersinar sebagai panduan bagi generasi mendatang dalam menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks, sekaligus memperkenalkan narasi kemanusiaan dan alam yang lokal sebagai bagian dari khasanah kebudayaan dunia yang tak ternilai harganya.

Tokoh