

Setelah menyebrangi selat muria, sampailah Rananggana dan pasukannya di muara kali gelis. Kemudian mereka memasuki hutan jati dan terus berjalan sampai pada sebuah bukit yang cukup lapang. Mereka lantas “ngracut gegaman” menanggalkan perlengkapan perang. Lalu melakukan semedi merudhandha. Mereka menyucikan diri, mohon pengampunan Sangyang Widhi, mereka ingin menjalani kehidupan sebagai orang biasa, mengolah Tanah Muria dan menjaga kelestariannya. Namun tidak demikian dengan Rananggana. Dia ingin segera “moksha”. Dia tutup rapat jalan nafsunya. Dia papas semua kehendaknya.
Namun apa daya, ditengah dia bertapa, gangguan muncul, pasukan alap-alap (sekutu Syailendra) datang menginvasi Tanah Muria. Mereka dengan pongahnya mengambil sumber daya alam di lereng Tanah Muria. Rananggana tidak bisa lagi menahan amarahnya. Rananggana murka. Dia lepaskan nafsunya. Dia menggempur pasukan alap-alap dan ternyata tidak mudah. Mereka datang lagi dan lagi, lebih banyak lagi. Akhirnya Bregada Manyura datang, membentuk formasi, siap menggempur siapa saja yang akan merusak Tanah Muria., 04 November 2023.