

Penampilan Barongan Muria Ndas Papat, Kisah Rananggana Merti Bumi, oleh Komunitas Seni Samar, mewarnai pagelaran budaya Artsotika Muria #3. Pagelaran budaya ini diselenggarakan di Desa Batealit Kecamatan Batealit Kabupaten Jepara Jawa Tengah sejak satu bulan lalu. Puncaknya diselenggarakan hari Minggu (21/11-2021).
Rananggana sang pertapa menerima titah dari Dewi Saraswati melalui Danyang leluhur secara turun temurun. Jika ingin sampai menuju swarga loka, ia harus senantiasa menjaga dan mengawasi ke empat saudaranya agar tidak membuat kerusakan tanah muria. Dalam lelakon panjang dan lama, Rananggana merasa berhasil mengemban tugas. Ke empat saudaranya telah tunduk dan patuh mengikutinya.
Maka ia bermaksud untuk menyudahi tapa bratanya untuk istirahat sejenak. Setelah memagari dengan mantra – mantra agar tidak ada yang masuk dan mengganggu ke empat saudaranya, Rananggana meninggalkan pertapaan. Tepat disaat itulah, Alap – alap datang membawa “Kama Ambura” Batu ajaib yang jatuh dari langit. Konon, siapa saja yang bisa menguasai batu tersebut, ia akan hidup abadi dan menguasai dunia. Benar saja, ke empat saudara Rananggana mudah tergoda.
Alap – alap tak mampu menembus benteng yang dibangun Rananggana. Tapi, saudara – saudara Rananggana bisa keluar dan merusaknya. Kemudian mereka pun saling merebut untuk menguasai batu yang ditawarkan Alap – alap. Saat mengetahui hal itu, Rananggana murka. Alap – alap segera menyingkir. Namun, ke empat saudaranya justru melawan. Mereka menyerang Rananggana.
Situasi makin tak terkendali. Rananggana terpaksa menggunakan senjata pamungkasnya “Sada Manggala” untuk menundukkan ke empat saudaranya.
– Sebuah kolabrosai seni bersama teman – teman kesenian Jepara di Batealit, Kabupaten Jepara.