

Di dalam ruang seni pertunjukan teater, seseorang dapat mempelajari dimensi kesenian yang berkolaborasi menjadi satu kesatuan: dimensi seni rupa, musik, mau pun sastra. Penghayatan “menjadi” tokoh di dalam teks drama yang diperankan juga begitu penting di dalam seni teater.
Mimik muka, gestur, maupun tinggi-rendah ujaran dalam berdialog sangatlah mendukung di dalam memaknai karakter tokoh. Pementasan teater tak hanya mengandalkan teks drama yang diwujudkan dalam lakon pementasan. Setting tempat yang mengunggulkan dimensi seni rupa menjadikan seni teater kaya akan estetika. Juga tentang bagaimana memaknai sebuah gagasan yang tertuang didalam naskah.
Dari pergolakan emosi itu mewujud dalam kematangan bangun ruang kolaboratif yang bisa dimaknai sebagai pertunjukan teater. Pada 31 Juli – 12 Agustus 2023, Komunitas Seni Samar bekerjasama dengan Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, BBPPMV Seni dan Budaya dalam kegiatan Upskilling dan Reskilling Kompetensi Keahlian Seni Teater di Omah Pencu, Panjang Kidul, Panjang, Kec. Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Dalam kegiatan tersebut diharapkan para guru mendapatkan bekal untuk melanjutkan tugasnya dalam pendidikan praktis.
Sebagai Komunitas Seni yang pada awalnya berpijak pada disiplin seni teater untuk menuangkan ekspresi dan gagasannya, Samar memberikan beberapa pandangan tentang studi penggarapan artistik yang meliputi penyutradaraan, keaktoran, hingga tata panggung, atas apresiasi karya Monolog Whani Darmawan yang diberikan kepada para guru. Kegiatan selama beberapa hari itu juga dibantu oleh beberapa sedulur Samar seperti Leo Katarsis, Dian Puspitasari, Warih Bayu W, Farid, Ady Maulana dan M. Ikbal Hakim serta beberapa penggarap seni teater berpengalaman di ruang Samar.
Disela intesitas proses yakni dalam dialog – dialog kebersamaan yang menyenangkan kami juga tidak lupa atas misi sebagai komunitas seni yang senantiasa mengasah kepekaan untuk merespon gejala sosial. Dalam kesempatan itu, Mopet Sk mengajak rekan – rekan guru untuk bagaimana meresepon menghadapai tantangan zaman melalui gelombang teknologi industri yang juga berdampak kepada generasi muda. Dengan dialog atas respon terhadap transformasi kebudayaan 4.0 dalam konteks kesenian sebagai industri dan relevansi kemanusiaan.
Dimalam terakhir dituntaskan di Panggung Pencu yang melibatkan masyarakat kampung desa Panjang beserta beberapa komunitas seni di kabupaten Kudus untuk mangayubagyo atas ruang kegembiraan yang disajikan oleh para guru di parade Monolog Karya Whani Darmawan itu.









