

Kompleksitas kehidupan dunia yang menyertakan aneka harapan, beragam potensi, berbagai kemungkinan dan rupa – rupa kenyataan, memberikan indikasi bahwa perjalanan hidup tak ubahnya seperti permaianan. Persoalnya hanya terletak pada cara pandang masing – masing individu. Jika permainan dianggap sebagai hal yang tidak serius atau ” cuma main – main “, tentu mereka menolak paradigma yang menyatakan bahwa hidup tak ubahnya sebuah permainan. Tentu saja orang – orang beranggapan seperti itu masih kurang peka bahwa dalam event yang menggelar suatu permainan, tak cuma dijalani oleh para pelaku dengan mati – matian, dan juga dengan biaya yang cukup banyak dan mempertaruhkan citra suatu individu atau negara.
Dalam konteks teater sebagai ilmu, diperlukan metode untuk mencapai apa yang menjadi sebuah bentuk pertunjukan. Diantaranya adalah pendekatan yang ditawarkan oleh Spolin Viola Spolin pada tahun 1946.
Proses pembuatan teater di lingkungan sekolah sering kali mengadopsi konsep teater dramatik berbasis naskah. Paradigma ini mewajibkan seluruh anggota tim untuk mengikuti arahan permainan yang telah ditentukan. Sutradara bertanggung jawab merancang konsep jalannya permainan, mulai dari pemain hingga elemen artistiknya. Pemain harus memiliki kemampuan mengelola tubuh, suara, dan emosi mereka sesuai dengan karakter yang dimainkan. Sama halnya dengan penata artistik yang berusaha mengimplementasikan seluruh elemen pendukung sesuai dengan petunjuk permainan. Transformasi dari skenario ke dalam sebuah pertunjukan membutuhkan dedikasi waktu yang tidak sedikit.
Namun, di sisi lain, proses pementasan teater di sekolah sering kali terbatas oleh keterbatasan waktu. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan alternatif yang lebih fleksibel namun tetap mampu mencapai tujuan yang diinginkan. Salah satu pendekatan yang dapat diambil adalah melalui “theater game.”
Sebagai contoh, dalam melatih bakat para aktor muda di industri hiburan seperti Hollywood, diterapkan model pelatihan teater improvisasi. Pemain teater dilatih untuk menjalankan adegan secara spontan dengan tujuan tertentu. Theater game, secara sederhana, dapat diartikan sebagai cara pembelajaran seni teater melalui berbagai permainan.
Meskipun metode yang diajarkan oleh Spolin bukanlah satu-satunya cara untuk belajar teater di sekolah, kehadiran theater games memberikan nuansa segar dalam pengajaran seni teater. John Caird (2010) bahkan merekomendasikan penggunaannya pada tahap awal pelatihan teater profesional, khususnya ketika para pemain baru perlu beradaptasi. Fleksibilitas model theater games, baik dalam jenis permainan maupun pelaksanaannya, memudahkan pengaplikasiannya di lingkungan sekolah. Terlebih lagi, nilai-nilai pribadi, sosial, dan budaya dapat dengan mudah diintegrasikan ke dalamnya.
Proses penciptaan teater yang sederhana dapat dilakukan secara efektif dengan memanfaatkan theater game. Sebelumnya, pemain harus menjalani sesi pemanasan dan berbagai permainan awal untuk mengasah konsentrasi dan imajinasi mereka. Konsentrasi menjadi pondasi mental yang penting bagi pemeran, sementara imajinasi merupakan kunci kreativitas pementasan. Dengan memperkuat kedua aspek ini, para pemain dapat lebih baik menghayati peran yang mereka bawakan. Langkah selanjutnya adalah percobaan dalam adegan-improvisasi, di mana theater game menekankan pada imajinasi dan spontanitas pemeran. Setelah itu, dilakukan eksplorasi dalam adegan improvisatoris untuk memberikan ruang kreasi pemeran dalam membangun ide sesuai dengan pedoman, dengan fokus yang tetap terjaga.
Pentingnya perhatian terhadap struktur dasar cerita dalam pementasan tidak dapat diabaikan. Unsur kunci dalam teater adalah konflik, sehingga cerita yang dihasilkan dari permainan harus memuat elemen konflik. Dengan demikian, struktur dasar pementasan dapat disederhanakan menjadi pemaparan – konflik – penyelesaian. Tahap berikutnya adalah bagaimana menyampaikan cerita tersebut dengan cara yang menarik, spontan, segar, penuh semangat, dan mengikuti aturan yang telah disepakati bersama.
Bacaan :
Amiel Schotz.1998. Theatre Games and Beyond. Colorado: Meriwether Publishing.
Eko Santosa, Dkk. 2008. Seni Teater Jilid 2. Jakarta: Dir. PSMK, Depdiknas.
Sujatmiko, Human Playground – Bermain, Mentas.id


