

Kegiatan berteater dalam kehidupan masyarakat dan budaya Indonesia bukan merupakan sesuatu yang asing bahkan sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan, kegiatan teater dapat kita lihat dalam peristiwa-peristiwa Ritual masyrakat lampau hingga kini, tingkat- tingkat hidup, siklus hidup juga hiburan.
Setiap daerah mempunyai keunikan dan kekhasan dalam tata cara penyampaiannya. Untuk dapat mengapresiasi dengan baik mengenai seni teater terutama teater yang ada di Indonesia. Pada 5 September 2023, SMAN 1 Mejobo dalam Projek Penguatan Profil Pancasila ” Bhinneka Tunggal Ika “mengadakan kunjungan studi tiru di Omah Pencu yang merupakan basecamp dari Komunitas Seni Samar untuk bersama berdiskusi tentang bagaimana sebuah kajian cerita dan mitologis daerah dapat dieksplorasi dan menjadi sebuah pertunjukan yang masih memiliki daya takjub dan relevan untuk generasi muda.
Dalam paparan diskusi, SAMAR selaku narasumber dan teman berdiskusi memamparkan apa, bagaimana dan kenapa tentang karya Luh Maura. Kajian tentang penjelajahan Samar memandang masyarakat lampau sebelum Kudus saat selat Muria masih menjadi wilayah yang strategis untuk perdagangan Demak, Jepara, Pati, dan Juwana. Didalamnya didapati temuan – temuan cerita yang semestinya dapat digali menggunakan metode pendekatan modern untuk menjadi khasanah ilmu pengetahuan baru. Dari pijakan itu lahirlah karya seni yang penjalajahannya sampai pada ruang mitologis. Ruang intuitif yang semestinya sudah dimiliki dan menjadi kekayaan bangsa Indonesia, khusunya di Kabupaten Kudus dan kawasan Lingka Muria.
Keterlibatan siswa yang intens dalam dialog kesenian itu juga disispkan muatan bagaiamana menata sebuah manajemen produksi yang mampu melahirkan karya autentik yang dapat menjelma dalam berbagai ruang kreatif yang tidak hanya selesai pada pertunjukan panggung semata.





