

Panggung senyap. Selembar tirai menggantung di layar belakang sebelah kiri. Beberapa boneka dan bantal terserak di lantai. Sosok tokoh mulai terlihat saat cahaya menyaput panggung. Ia menyanyi sumbang, saratkan jiwa yang tak seimbang. Raut mukanya menggambarkan derita hebat sepanjang hidup, ada gelombang besar dalam benaknya. Ketika nyanyianya mulai meninggi geraknyapun kalang – kabut, lalu terhempas ia dilantai.
Sepi menyergap sang tokoh bergerak perlahan, sorot matanya menghujam penonton memohon persetujuan, mencari penyaksi. Mulailah kata – katanya.
