

CANDALA. Sebuah sebutan untuk orang yang memiliki banyak cela atau kekurangan. Sabila Puspita menuliskan karya monolog ini dengan berbagai konflik dalam rumah tangga, dimana seorang istri diperlakukan rendah oleh suaminya. Suaminya seringkali membawa pelacur ke rumah dan mertuanya pun tidak mempedulikannya. Diceritakan bahwa tokoh dalam monolog menjalani kehidupan pernikahan karena perjodohan dari ayah kandungnya dengan harapan sang pria/suami akan berhenti nakal setelah menikah, namun setelah menikah malah semakin menjadi-jadi. Bahkan setelah menikah, sang ayah juga lepas tanggung jawab dan lebih memilih pergi bersama wanita lain tanpa peduli dengan sang tokoh/anaknya. Sungguh, kehidupan tragis yang seolah-olah menjadi turun-temurun.
“Entah beberapa dari mereka yang menonton monolog saya menjalani kisah yang hampir sama, mereka mungkin mendapatkan dukungan atas perasaan senasib, ataupun mereka yang tidak sama sekali mengalaminya, bisa mengambil hikmah dari cerita ini.” Ujar sang aktor sekaligus penulis CANDALA.
Berbagai kesulitan Sabila ceritakan dalam proses karya ini yaitu untuk masuk ke dalam ruang imajinasi, karena kisahnya sedih, jadi ketika tidak bisa masuk dalam ruang tersebut, performanya menjadi biasa saja (hambar), dan untuk masuk dalam ruang tersebut Sabila harus menata mood, perasaan sedang bahagia atau sedih harus tetap bisa masuk dalam ruang imajinasi.
Bagi Sabila, kisah seperti ini sering dianggap remeh dan sepele. Ia berharap ada jalan keluar dari konflik tersebut untuk generasi yang akan datang. Tidak mungkin hal seperti ini menjadi adat di Indonesia, toxic sekali bukan?