


SUNGSANG adalah monolog karya Eddy Su. Berangkat dari kegelisahan sang penulis sebagai manusia yang hidup dalam lingkungan masyarakat sekarang dan melihat beberapa potret tentang kehidupan seseorang yang belum menikah diusia yang dipandang orang sudah matang, pekerjaan yang tidak bagus, kisah hidup yang nyeleneh. Kasus seperti itu dikaitkan dengan pemikiran seseorang dengan proses kelahiran manusia. Kelahiran yang nyeleneh dan tidak lazim dikatakan kelahiran sungsang.
“Saya menarik alur cerita pada kehidupan manusia saat ini, yang saling membully, bunuh membunuh, sering ikut campur dengan masalah seseorang, dan lain sebagainya.” Ujar Eddy Su.
Eddy Su juga membeberkan kendalanya dalam penggarapan naskah ini yaitu ia bukan bagian dari orang-orang yang terlahir sungsang, jadi ia tidak banyak mengalami kehidupan yang seperti itu. Sehingga ia melakukan observasi dengan pengamatan pola kehidupan seseorang yang terlahir sungsang di sekitarnya lebih dalam lagi untuk ia torehkan ke dalam naskah.
“Ketika di panggung, di dalam penggarapan karya ini, saya sebagai penulis, sebagai sutradara, dan juga sebagai pemain acap kali menemukan kesusahan untuk menggiring suasana yang ingin saya hadirkan. Maunya saya seperti ini, tapi ketika eksekusi belum sampai ke tahap yang diinginkan. Sehingga acapkali saya pun harus tetap berkoordinasi kepada penata musik agar dapat dihadirkan iringan musik yang menggiring suasana disaat pertunjukkan.” Jelas Eddy Su ketika ditemui di Omah Pencu Desa Panjang seusai latihan.
Eddy Su selaku pencipta monolog berjudul SUNGSANG berharap karyanya bisa menjadi sumber inspirasi karya yang lain dan memiliki tema serupa. Ia juga berharap ketika naskah ini dipertunjukkan, tidak hanya menjadi tontonan semata melainkan sebagai tuntunan manusia dalam hidup bersosial, harus saling cinta kasih antar sesama.