

Pedukuhan Sumber, sebuah kawasan subur di lereng Muria. Daerah yang awalnya hutan karena banyak ditumbuhi pepohonan digarap dengan baik oleh Mbah Buyut Kyai Dudo dan beberapa pengikutnya dengan membuka lahan pertanian sebagai sumber penghidupan mereka. Suatu ketika, disaat menjelang hari raya Idul Fitri, Mbah Buyut Kyai Dudo memerintahkan para muridnya (santri) untuk segera menyelesaikan pekerjaan pertaniannya, mengingat pada hari raya Idul Fitri bagi masyarakat setempat adalah waktu untuk saling bersilaturahmi sesama anggota keluarga lainnya. Pendeknya waktu yang tersedia dan banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan, membuat para warga harus bekerja keras walaupun sampai malam hari.
Matahari baru saja tenggelam di ufuk barat, menandakan waktu telah mulai berganti malam. Sebagian warga ada yang masih tak beranjak dari lahan persawahan. Dengan sangat tekun dan penuh semangat mereka memainkan cangkulnya pada tanah sawah yang telah diairi hingga menimbulkan suara yang khas sebuah benda keras beradu dengan tanah berair.
Sebuah rombongan terdiri dari tiga orang secara kebetulan lewat di areal tersebut. Ternyata adalah Sunan Muria bersama dua santrinya. Mendengar suara gemericik, Sunan Muria bergumam, ” Ini suara apa ya? Malam-malam begini kecipak-kecipik seperti Bulus….”. Tiba- tiba orang yang sedang mencangkul di sawah itu menjadi Bulus setelah ada gumaman Sunan Muria yang ternyata menjadi sabda.
Sementara itu, Mbah Buyut Kyai Dudo di kediamannya merasakan firasat tidak enak yang kemungkinan terjadi sesuatu di sawah. Segera Mbah Kyai Dudo pergi ke sawah tempat dimana sebagian warganya ada yang masih bekerja. Betapa terkejutnya, Mbah Kyai Dudo mendapati warganya yang bekerja di sawah berubah menjadi Bulus. Setelah mengetahui sebab musababnya, Mbah Kyai Dudo mencari Sunan Muria untuk mencari tahu apa alasannya sehingga sebagian warganya berubah menjadi Bulus. Bertemulah Mbah Kyai Dudo dengan Sunan Muria yang ternyata sedang termenung menyesali ucapannya yang berbuah jadi kenyataan. Setelah menceritakan runtutan kejadian yang baru saja terjadi, Sunan Muria juga menyatakan bahwa semuanya sudah terlanjur dan ucapannya tak dapat ditarik kembali. Mbah Kyai Dudo sebagai orang yang arif bijaksana lantas menanyakan tentang Berkah dan Hikmah apa atas kejadian tersebut.
Sunan Muria berusaha menebus kekhilafannya. Tak berapa lama, Sunan Muria menancapkan tongkat Kayu Adem Ati ke tanah dan meminta Mbah Kyai Dudo untuk mencabutnya. Mbah Kyai Dudo menuruti perintah Sunan Muria dan segera mencabut tongkat yang tertancap di tanah tersebut. Sebuah keajaiban lagi-lagi terjadi. Bekas tongkat yang tercabut, tiba-tiba mengeluarkan sebuah sumber air yang jernih dan bersih. Sunan Muria berucap, ” Mulai saat ini, sumber air yang bersih dan jernih ini akan dapat dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari oleh masyarakat sekitar sini.”
Seiring perjalanan waktu, sumber air itu memang sangat membantu kebutuhan air para warga. dan daerah itu mulai dikenal dengan nama Sumber.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban atas warga yang berubah jadi Bulus, Sunan Muria mengeluarkan fatwa kepada warga, “Walaupun sekarang mereka sudah berubah bentuk menjadi Bulus, namun seluruh warga harus memiliki kewajiban untuk menyayangi mereka sebagai bagian dari keluarga. Tengoklah mereka secara khusus bertepatan dengan kejadian ini, yaitu tepat seminggu setelah hari raya Idul Fitri. Berilah makanan secara terhormat pada mereka. Barangsiapa yang mempunyai hajat, makanan yang dimasak pertama kali harus diberikan pada Bulus-bulus ini. Dan Sunan Muria segera meninggalkan tempat itu dengan perasaan gundah.