

Menafsiri mitologi mBulusan diperlukan kehati-hatian dan kecermatan. Sebab, di dalamnya terdapat banyak simbol yang perlu digali maknanya, sesuai dengan konteks simbol itu. Sejarah masyarakat Jawa selalu bersifat simbolik. Hal ini terjadi karena ada makna batin yang ingin disampaikan melalui simbol itu.
Di luar itu, mitos dalam masyarakat selalu terkait dengan kearifan lokal (local wisdom). Dengan kearifan ini, masyarakat kita diberi panduan hidup. Sebuah kebajikan untuk memaknai hidup, baik sebagai pribadi maupun sebagai masyarakat.
Dalam Tradisi mBulusan, kita bisa menangkap makna pada nama tongkat Sunan Muria dari Kayu Adem Ati yang ditancapkan di tanah yang kemudian keluar sebuah sumber air. Dengan tongkat kayu itu, Sunan Muria membuat sumber air sehingga masyarakat bisa memanfaatkannya sebagai kebutuhan hidup sehari-hari. Maka, adem ati adalah Sumber itu sendiri. Sementara yang paling dibutuhkan oleh masyarakat, menurut Sunan Muria, adalah Sumber, yang berisi adem ati.
Hal ini niscaya, sebab penciptaan Sumber adalah jawaban dari pertanyaan Mbah Kyai Dudo, “apa hikmah dan manfaat dari peristiwa ini?”. Dari pertanyaan ini dan dari fenomena orang-orang yang masih bekerja di sawah walaupun waktu sudah malam, Sunan Muria menganggap yang dibutuhkan adalah sebuah Sumber air, yang darinya bisa didapatkan manfaat untuk penghidupannya di sawah, kebun, ternak, dan masyarakat itu sendiri.
Menariknya, ritual memberi makan Bulus, dilakukan dalam hari-hari Idul Fitri, yakni satu minggu setelah hari raya Idul Fitri. Dari sini bisa diambil makna, bahwa untuk mencapai sebuah Sumber, yaitu adem ati, seseorang haruslah menapaki jalan puasa, sehingga ia mencapai kefitrian. Pada titik ini, kefitrian dalam Idul Fitri disamakan dengan adem ati, yang menjadi Sumber kehidupan masyarakat.
Kenapa manusia harus memiliki ati yang adem sebagai sumber hidupnya? Kemasygulan Sunan Muria ketika mendapati orang yang masih bekerja di sawah hingga malam hari, membuahkan sebuah gumaman “malarni malam kecipak-kecipik seperti bulus” adalah sebuah pelajaran orang- orang yang bekerja sampai lupa waktu. Malam hari yang semestinya untuk ibadah dilewati demi mengejar dunia, tak ubahnya seperti binatang (Bulus). Dalam gumaman yang akhirnya menjadi kutukan ini tersimpan kuat muatan syari’at. Pandangan nilai syari’at tentu saja tak mengampuni corak kerja ekonomis yang melupakan manusia dari kodrat hakikinya, yaitu ibadah.
Ibadah dalam hal ini adalah ibadah syar’i sebab menurut Sunan Muria orang-orang yang masih bekerja di sawah malam-malam itu tentu belum melaksanakan sholat maghrib atau isya’. Maka, agar manusia tidak terjebak dalam kerja ekonomis demi ekonomi itu sendiri, ia haruslah memiliki atau kembali ke Sumber, yakni adem ati. Dengan demikian inti dari mitologi tersebut adalah Sumber, yang saat ini menjadi nama pedukuhan di kawasan tersebut. Sumber menjadi simbol yang membungkus isi-konseptual bernama adem ati. Dengan adem ati ini, manusia tidak akan jadi bulus, yang hanya kecipak-kecipik dengan “lumpur ekonomis” yang membelenggu kemanusiannya.
Dari persoalan ini, kita bisa menempatkan diri pada posisi bijak. Diantara semua pihak itu, tak ada yang berposisi salah. Orang-orang yang tersabda jadi Bulus adalah orang-orang dengan segala keterbatasan kondisinya mesti menyelesaikan pekerjaannya sebelum tiba Idul Fitri. Sedangkan Sunan Muria tanpa sengaja mengeluarkan kata yang ternyata menjadi sebuah ‘sabda’ akibat kemasygulannya melihat ada orang yang masih bekerja tanpa ingat waktu.
Yang sangat kental dalam mitologi ini adalah ajaran tentang Sumber itu sendiri yang dikontraskan dengan Bulus sebagai tipikal kebinatangan dari manusia yang hanya menjadi budak kerja-ekonomis. Bulus, Sumber, Adem Ati adalah kesatuan kritik Sunan Muria terhadap pola kemanusiaan yang bersifat hewani. Dari sini, Sunan Muria kemudian menawarkan adem ati sebagai obat dari kebinatangan itu, agar manusia bisa kembali kepada sumber, yang membuatnya semakin manusiawi.
oleh : Syaful Arif